
Apa yang istimewa dari Design Thinking?
Penulis : Alfiana Ramdhan
Editor : Budi Pranoto
Illustrator : Apri Kinos
Transformasi ide bisnis menjadi sebuah solusi bisa memberikan dampak perubahan pada kehidupan sehari-hari masyarakat, sebut saja Gojek. Sebuah aplikasi online yang tadinya berupa aplikasi ojek online dan berkembang signifikan dengan menghadirkan banyak layanan yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat di kota-kota besar seperti Jabodetabek, Bandung, Surabaya.
Kehadiran Gojek mendapatkan respon yang positif dari masyarakat sebab layanan yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat seperti layanan pembelian makanan, pengiriman, jasa pijat dan berbagai fasilitas lainnya. Lalu bagaimana cara kita menciptakan solusi menjadi sebuah ide yang tepat dan efektif terhadap permasalahan yang timbul di masyarakat? Apa saja yang dibutuhkan oleh pelaku usaha untuk menyeleksi sebuah ide yang baik?
Sebuah startup yang akan dikembangkan membutuhkan proses yang panjang dan untuk menemukan ide bisnis yang bagus bukan hanya soal peluang dan keberuntungan semata. Para pelaku usaha atau pendirinya harus memiliki kemampuan, keterampilan dan pengetahuan yang luas dalam bidang bisnis. Ide bisnis yang bagus bergantung pada peluang yang diciptakan oleh kebutuhan pasar. Salah satunya dengan berempati dan melakukan pendekatan manusia terkait kebutuhan pelanggan yang tidak puas terhadap suatu produk. Proses Design thinking menawarkan pendekatan yang berpusat pada manusia untuk merancang kesesuaian antara kebutuhan dan teknologi untuk menciptakan solusi menjadi strategi bisnis yang layak.

Menurut CEO Konsultan Design IDEO Tim Brown,
Design Thinking atau Pemikiran Desain adalah pendekatan inovasi yang berpusat pada manusia yang diambil dari perangkat desainer untuk mengintegrasikan kebutuhan orang, kemungkinan teknologi, dan persyaratan untuk kesuksesan bisnis.
Jadi maksudnya adalah pendekatan berbasis solusi, iteratif, dan berpusat pada manusia untuk berpikir dan pemecahan masalah sehingga dapat mengubah cara organisasi mengembangkan produk, layanan, proses, dan strategi. Dalam prosesnya, desain yang berpusat pada manusia mampu meningkatkan pengalaman pengguna pada sebuah produk dan mendorong adanya peningkatan kualitas produk dan layanan. Desain juga bersifat empatik, dengan demikian pelaku bisnis dapat memposisikan dirinya sebagai pengguna dan memikirkan apa yang akan dialami dan dirasakan oleh pengguna.

Design thinking atau Pola Pemikiran memiliki karakteristik adaptif dan iteratif sehingga metode ini cocok dalam proses pengembangan bisnis, baik untuk startup baru maupun startup dengan model bisnis yang sudah sukses. Selain itu, metode ini juga cocok digunakan untuk memvalidasi ide bisnis sehingga pelaku wirausaha dapat memastikan solusi bisnis yang mereka hadirkan sesuai dengan solusi yang dibutuhkan oleh pengguna.
Design thinking atau Pola Pemikiran terbukti mampu memberikan dampak nyata dalam bisnis. Salah satu bukti nyata lainnya bisa dilihat dari peningkatan design value index atau persentase penerapan praktik manajemen desain perusahaan – perusahaan besar di Amerika. Menurut David Dunne dalam tulisannya yang berjudul Implementing design thinking in organizations: an exploratory study, metode design thinking menghadirkan cara yang efektif bagi sektor bisnis maupun organisasi sektor publik dalam mengembangkan produk dan layanan orisinal yang memenuhi kebutuhan pengguna. Dalam proses design thinking terdapat 5 fase diantaranya,
Berempati
Dalam membaca situasi dan kondisi dari sebuah masalah, pelaku usaha harus menghadirkan rasa empati untuk bisa mempelajari pengalaman pengguna, mengidentifikasi apa saja hambatan yang dialami dan apakah solusi yang dihadirkan sudah sesuai dengan kebutuhan mereka. Ada tiga tahapan dalam fase Empati yaitu observasi, terlibat langsung dengan pengguna dan merasakan pengalaman pengguna.
| Tahapan | Contoh dan penjelasan |
| Obervasi | Pada tahap ini dilakukan pengamatan dan melakukan interaksi dengan calon pengguna di lingkunganya. Contohnya menyebar kuesioner online. Tujuannya untuk dapat mengetahui kebutuhan pengguna dan mengetahui keunggulan dan kelemahan kompetitor. |
| Terlibat langsung dengan pengguna dan Merasakan pengalaman pengguna | Tahapan ini bisa dilakukan dengan cara wawancara secara langsung dan tidak langsung seperti via telepon kepada sasaran pengguna untuk bisa merasakan situasi yang dialami oleh pengguna.
Tujuannya untuk membantu kita melihat lebih jauh, keluar dari asumsi kita untuk mendapatkan ide-ide yang segar dan belum pernah terpikirkan sebelumnya
Selanjutnya dengan pertanyaan yang terkait topik masalah yang ingin kita angkat. Contoh : Dari tempat yang bisanya tersebut adakah fitur yang menawarkan opsi jadwal pengiriman (topik yang ingin digali)? |
Menetapkan Ide
Dari hasil pengumpulan informasi melalui fase pertama, selanjutnya adalah menggabungkan semua temuan dan keresahan yang dialami pengguna sehingga bisa diidentifikasi informasi mengenai keinginan dan kebutuhan pengguna yang dapat dijadikan acuan dalam pengembangan bisnis.
Sejalan dengan itu, menurut Tim Brown & Jocelyn Wyatt, fase menetapkan ide adalah sebuah proses mensintesiskan temuan dari empati yang didapatkan dari pengguna untuk membentuk sudut pandang pengguna yang akan dituangkan pada penciptaan solusi yang akan dibuat.
Membangun Ide
Fase selanjutnya adalah membangun ide dengan berdiskusi dan kolaborasi bersama rekan kerja dari beragam latar belakang. Dalam fase ini akan terbentuk proses pengelompokan dan penyortiran ide. Menurut Kyeongwon, Lee fase ini adalah fase untuk menjelajahi berbagai solusi yang mungkin dihasilkan dalam jumlah yang besar dan beragam, memungkinkan kita untuk melangkah lebih jauh dan mengeksplorasi berbagai ide.
Prototype atau Bentuk Dasar

Fase ini merupakan bentuk nyata dari ide yang sudah dirancang bersama tim. Menurut Kyeongwon, Lee fase ini adalah fase untuk mengubah ide-ide menjadi bentuk fisik yang cepat dan murah sehingga kita dapat menjalani dan berinteraksi dengan ide tersebut, dan dalam prosesnya, fase ini mempelajari dan mengembangkan ide dengan lebih banyak empati. Melalui pembuatan prototype atau bentuk dasar kita bisa mengidentifikasi kemungkinan yang tidak terduga dan tidak diinginkan.
Mengapa menggunakan prototype atau bentuk dasar?

Pengujian Ide
Pada fase ini kita bisa melakukan pengujian ide dan prototype yang sudah dirancang dari fase sebelumnya sehingga bisa dilakukan monitoring terhadap calon pengguna. Menurut Kyeongwon, Lee dalam fase ini cobalah membuat produk dengan resolusi tinggi dan gunakan pengamatan dan umpan balik untuk memperbaiki prototype, mempelajari lebih lanjut tentang pengguna, dan memperbaiki sudut pandang asli kita dalam memahami segala kondisi.
Banyak pengusaha pemula yang kurang jeli dan gegabah dalam mengeksekusi ide bisnis mereka dan percaya bahwa ide yang mereka tawarkan merupakan terobosan yang akan diterima oleh konsumen. Melalui sebuah survei di mana 120 pengusaha pemula telah berbagi pengalaman mereka tentang kesalahan awal bisnis yang paling umum, penolakan pelanggan potensial, dan model penjualan yang sesuai untuk perusahaan baru. Lebih dari separuh perusahaan yang disurvei merancang produk akhir sebelum menerima umpan balik pelanggan. Pengembangan produk lengkap tanpa konfrontasi dan umpan balik pelanggan memakan waktu lama namun tidak memberikan hasil yang diharapkan. Kebutuhan pelanggan harus diperhitungkan sejak hari pertama pengembangan produk.
Referensi :
1. Brown, T., & Wyatt, J. (2010). Design Thinking for Social Innovation. Stanford Social
Innovation Review, 8, 30–35.
https://ssir.org/articles/entry/design_thinking_for_social_innovation
2. Dunne, D. (2018). Implementing design thinking in organizations: an exploratory study.
School of Business, University of Victoria, Business and Economics Building (BEC), PO Box 1700, STN CSC, Victoria, BC V8W 2Y2, Canada.
https://jorgdesign.springeropen.com/articles/10.1186/s41469-018-0040-7
3. Lee, K. (2018). Innovative Design Thinking Process with TRIZ. In: Cavallucci D., De Guio R., Koziołek S. (eds) Automated Invention for Smart Industries. TFC 2018. IFIP Advances in Information and Communication Technology, vol 541. Springer, Cham.
https://hal.inria.fr/hal-02279754/document
4. Medium.com. “Design Thinking : The Tool Every Start-up needs”.
https://medium.com/newcampushq/design-thinking-the-tool-every-startup-needs-1389567ed9c6. Diakses pada 23 Juni 2021.
5. Medium.com. “What Makes a Start-up Successful : Key Criteria for Evaluating The
Growth Potential of Start-ups”. https://medium.com/sap-innovation-spotlight/what-makes-a-startup-successful-key-criteria-for-evaluating-the-growth-potential-of-startups-a17fc77483ac. Diakses pada 24 Juni 2021
6. Slafik, S. (2020). Business Ideas in Start-ups. University of Economics in Bratislava, Department of Management, Bratislava, Slovakia.
https://www.researchgate.net/publication/346557861_Business_ideas_in_start-ups
BELAJAR DARI SASA, MENEMUKAN SOLUSI DENGAN BERTRANSFORMASI
media.stepnesia@gmail.com
•
July 4, 2021
•
General
•
No Comments
BELAJAR DARI SASA, MENEMUKAN SOLUSI DENGAN BERTRANSFORMASI Penulis : Budi Pranoto “Kita hanya dipinjami beberapa waktu oleh kompetitor, sebelum pada akhirnya …

Apa yang istimewa dari Design Thinking?
media.stepnesia@gmail.com
•
July 3, 2021
•
General
•
No Comments
Apa yang istimewa dari Design Thinking? Penulis : Alfiana Ramdhan Editor : Budi Pranoto Illustrator : Apri Kinos Transformasi ide bisnis menjadi …

BENARKAH ARTIFICIAL INTELLIGENCE MEMBUAT SEGALANYA MENJADI 2X LEBIH CEPAT?
media.stepnesia@gmail.com
•
June 9, 2021
•
General, StartUp
•
No Comments
BENARKAH ARTIFICIAL INTELLIGENCE MEMBUAT SEGALANYA MENJADI 2X LEBIH CEPAT? Penulis : Elsa Ajarwati Kamu pernah, gak, berpikir berapa lama waktu yang sudah …

BANGUN STARTUPMU SENDIRI!
media.stepnesia@gmail.com
•
June 9, 2021
•
General
•
No Comments
BANGUN STARTUPMU SENDIRI! Penulis : Wiby Seno Suharto Membangun sebuah ide dari keresahan di masyarakat dan membentuknya menjadi sebuah startup, tidak bisa …

0 Komentar